ARTJOG adalah salah satu event internasional sehingga dipromosikan secara internasional pula melalui iklan pada Asian Art. Sedangkan untuk di Indonesia sendiri, khusunya di Yogyakarta, ARTJOG dipromosikan melalui sosial media, mulut ke mulut, radio, dan media sponsor lainnya karena ARTJOG identik dengan event yang anti baliho dan spanduk. Menurut Heri, menjadi keuntungan bagi ARTJOG sebagai event yang photogenic. Hal tersebut menjadi daya tarik yang kuat bagi pengunjung sebagai awal dari apresiasi karya. Nantinya foto akan masuk ke jejaring dan mempermudah penyebaran informasi. Selain itu, brand dari seniman dan massa penggemar karya juga menambah nilai promosi ARTJOG. Heri meyakini bahwa event yang dikenal jika dikemas dengan bagus dan layak.
Tahun 2014 merupakan tahun ke tujuh ARTJOG dilaksanakan dengan mengusung tema “Legacy of Power” yang berarti warisan dari kekuasaan. Secara lebih khusus, pameran ini menampilkan karya yang berkaitan dengan kondisi atau keadaan tertentu di Indonesia sebagai akibat dari kekuasaan masa kolonialisme yang menjajah bangsa kita. Salah satu karya yang menarik adalah “Go to Hell Crocodile”.
Lukisan di atas lahir dari buah pemikiran Djoko Pekik yang merasa tidak terima bangsanya dijajah oleh kapitalis neokolonialisme. Setelah kemerdekaan yang begitu susah diperjuangkan, pada tahun 1965 atau permulaan dari rezim Orde Baru presiden Soeharto, Indonesia kembali dijajah oleh neokolonialisme. Bukan dijajah secara terang-terangan seperti di zaman Soekarno, tetapi dijajah secara tidak langsung. Melalui efek dahsyat globalisasi, teknologi, budaya, ilmu pengetahuan modern, hal-hal tersebut menjajah kita tanpa kita sadari. Dalam Go to Hell Crocodile, Djoko Pekik secara khusus menggambarkan Indonesia yang diambil kekayaan alamnya, yaitu bumi yang dikeruk habis-habisan dan diambil isi di dalamnya, uisaha ini biasa kita sebut sebagai tambang.
Sejak tahun 1965 hingga sekarang, Indonesia sudah tercabik alamnya. Begitu menurut Djoko Pekik. Tergambar dalam lukisan tersebut bivak yang merupakan rumah adat Papua dan galian lubang spiral. Bisa diartikan latar dari lukisan tersebut berada di Papua. Ada juga lingkaran seperti lubang yang digali ke dalam secara spiral. Itu seperti menggambarkan tambang PT Freeport yang berada di Jayapura, sehingga buaya adalah penggamabaran dari PT Freeport yang merupakan bagian dari neolkolonialisme. Banyak manusia disekitar buaya dan salah satunya membawa bambu runcing. Bambu runcing merupakan senjata tradisional bangsa Indonesia di zaman dulu. Dalam lukisan ini, bambu runcing dimaknai sebagai simbol perlawanan bangsa Indonesia, khusunya masyarakat Jayapura untuk melawan PT Freeport yang semakin lama justru semakin mengeruk kekayaan tambang bangsa Indonesia. Orang-orang dalam lukisan bersifat heterogen, berbagai alangan, berbagai usia, berbagai profesi. Dimana semuanya bekerjasama menjadi satu untuk mengusir buaya. Menunjukkan kekompakan masyarakat Jayapura dalam mengusir PT Freeport. Di pojok kiri lukisan tampak orang-orang menghadap ke arah yang berlawanan dengan buaya dan memegang ekor buaya, seperti menarik dan hendak mengeluarkan buaya dari tanah mereka, ini merupakan penggambaran dari masyarakat Jayapura yang ingin mengusir kapitalis neokolonialisme dari tempat tinggal mereka. Namun jika kita perhatikan, kuku si buaya begitu kuat menahan tarikan orang-orang tersebut, seolah-olah buaya tidak ingin pergi. Sama persis dengan keadaan sekarang, PT Freeport enggan untuk meninggalkan Jayapura, Indonesia karena kekayaan tambang yang ada disana dan dengan egoisnya mereka menggali dan merusak alam Indonesia. Di bagian kanan atas terlihat pohon yang bergoyang seperti diterjang angin yang sangat kencang, orang-orang pun memegangi topinya dengan kuat agar tidak terbawa angin. Saya menafsirkan angin sebagai efek dari kapitalis neokolonialisme yang sangat kuat dan bisa membuat kita terbawa dampaknya.
Begitu banyak hal yang dapat ditafsirkan dari lukisan tersebut. Pada intinya, Djoko Pekik ingin menyampaikan pesan begitu merugikannya warisan dari kekuasaan yang ada di Indonesiadan kita hendaknya sebagai generasi muda dapat menyikapi dan menghadapi legacy of power dengan bijak.



No comments:
Post a Comment